Biografi Eka Tjipta Widjaja – Pendiri Sinar Mas Group

0
51

Dakonan.com(Biografi Eka Tjipta Widjaja – Pendiri Sinar Mas Group). Terlahir dengan nama Oei Ek Tjhong yang merupakan pengusaha sukses asal Indonesia yang merupakan pendiri dari Sinar Mas Group. Beliau pernah masuk deretan orang terkaya di Indonesia no. 2 versi majalah Globe Asia tahun 2018 dengan total kekayaan 13,9 miliar dollar AS. Bisnis utamanya adalah pulp dan kertas, agribisnis, properti dan jasa keuangan. 

Profil Singkat Eka Tjipta Widjaja

  • Nama : Eka Tjipta Widjaja / Oei Ek Tjhong
  • Lahir : Tiongkok, 27 Februari 1921
  • Wafat : Jakarta, 26 Januari 2019
  • Profesi : Pendiri Sinar Mas Group
  • Istri : Trinidewi Lasuki dan Melfie Pirieh Widjaja
  • Anak : Teguh Ganda Widjaja, Oei Hong Leong, Franky Oesman Widjaja, Indra Widjaja, Frankle Widjaja, Muktar Widjaja, Jimmy Widjaja, Fenny Widjaja, Sukmawati Widjaja, Ingrid Widjaja, Nanny Widjaja, Lanny Widjaja, Inneke Widjaja, Chenny Widjaja, Meilay Widjaja, Jetty Widjaja

Masa Kecil Eka Tjipta Widjaja

Lahir di Quanzhou, China pada 27 Februari 1921 dari keluarga miskin, membuat kedua orang tuanya memutuskan untuk mengadu nasib di negeri orang. 

Tahun 1932 ketika Oei Ek Tjhong berumur 9 tahun pindah ke kota Makassar menyusul ayahnya yang sudah lebih dulu tiba di Makassar dan membuka sebuah toko kecil. 

Bersama dengan ibunya, Eka kecil menempuh perjalanan 7 hari 7 malam menggunakan kapal. Lantaran sangat miskin mereka hanya dapat tidur di bawah kelas dek yang merupakan tempat terburuk di kapal. Bahkan untuk sampai di Indonesia saja keluarganya harus berhutang ke rentenir sebesar 150 dollar.  Selang dua tahun kemudian, keluarganya berhasil melunasi hutang ke rentenir berkat toko kecil yang mereka jalankan. 

Eka bukanlah tamatan sarjana, doktor, maupun gelar-gelar yang disandang para mahasiswa ketika mereka tamat studi. Eka Tjipta Widjaja hanyalah seorang pengusaha yang hanya lulusan Sekolah Dasar. 

Masa Muda Eka Tjipta Widjaja

Ketika Eka menginjak usia 15 tahun, ia mulai mencari pemasok kembang gula dan biskuit untuk dijual kembali. Dengan cara jualan door to door mengelilingi kota Makassar dengan sepeda dan melewati hutan-hutan serta jalanan yang sebagus sekarang. 

Namun kebanyakan pemasok tidak percaya, mereka meminta pembayaran dimuka sebelum barang dibawa pulang. Berkat perjuangan Eka yang tidak kenal lelah, ia berhasil mendapatkan laba Rp 20,- dalam waktu dua bulan. Jumlah yang cukup besar kala itu, sebab pada waktu itu harga beras masih 3-4 sen. 

Jatuh Bangun Perjalanan Usaha Eka Tjipta Widjaja

Ketika usahanya mulai berkembang, Eka mulai membeli becak untuk mengangkut barang dagangannya. Namun semua itu tidak bertahan lama, usahanya mulai hancur total ketika Jepang mulai menyerbu Indonesia termasuk ke Makassar. Dengan adanya regulasi pajak yang besar yang diterapkan oleh pemerintah Jepang membuat usahanya hancur total. Eka akhirnya menganggur karena tidak ada barang impor/ekspor, dan laba Rp 2000 yang ia kumpulkan selama beberapa tahun habis ia belanjakan untuk kebutuhan sehari-hari.

Ketika harapannya mulai putus, Eka mengayuh sepeda keliling Makassar dan sampailah ia ke daerah bernama Paotere (daerah pinggiran Makassar, kini salah satu pangkalan kapal terbesar di luar Jawa). Ia melihat para tentara Jepang sedang mengawasi ratusan tawanan tentara Belanda. 

Namun yang menjadi perhatian Eka bukanlah para tentara Jepang dan Belanda, tetapi bahan makanan seperti terigu, gula yang masih dalam keadaan baik. Otak bisnis Eka pulai berpikir.

Ia mengayuh sepedanya untuk kembali pulang ke rumah dan mempersiapkan tenda di dekat lokasi itu. Ia berniat menjual makanan dan minuman kepada tentara Jepang yang ada di lapangan kerja itu.

Keesokan paginya sebelum matahari terbit ia sudah tiba di Paotere. Ia membawa gula, kopi, kaleng bekas minyak tanah yang berisi air, oven kecil yang berisi arang untuk membuat air panas, sendok, cangkir dan berbagai macam peralatan makan dan minum yang ia pinjam dari ibunya. Ia juga meminjam enam ekor ayam dari sang ayah yang akan ia masak ayam putih gosok garam. Tidak hanya itu ia juga meminjam whiskey, sebotol brandy, dan sebotol anggur dari teman-temannya.

Pukul tujuh pagi ia siap berjualan dan para tentara Jepang dan Belanda mulai berdatangan, tapi tidak ada satupun yang mendatangi tenda tempat ia berjualan, Eka mulai berpikir cepat dan memutuskan untuk mendatangi sang Komandan dan mentraktirnya makan dan minum. Selesai mencicipi ayam komplit dengan kecap cuka dan bawang putih, dan seteguh whiskey. Sang komandan bilang “Joto” (dalam bahasa Jepang artinya enak).

Maka semua pasukan tentara Jepang dan tawanan tentara Belanda diperbolehkan untuk makan dan minum di lapak milik Eka. Tentu saja ia tidak lupa minta izin untuk mengangkat semua barang yang sudah di buang oleh tentara Jepang.

Eka kemudian mengerahkan teman-teman satu kampung untuk mengangkat barang-barang itu dan membayar 5-10 sen. Semua barang diangkut dengan becak. Semua barang-barang tersebut memenuhi seluruh rumah, halaman bahkan sampai setengah halaman tetangga. 

Eka mulai memilah-milah barang yang masih layak digunakan. Terigu yang masih baik ia pisahkan, sedangkan yang keras ia tumbuk dan rawat agar bisa digunakan kembali. Ia juga mulai menjahit karung.

Ketika dalam keadaan perang semua suplai bahan makanan menjadi sulit, maka ia menjual terigu yang awalnya Rp 50,- menjadi Rp 60,- , dan akhirnya Rp 150,- . Dan untuk semen, ia mulai jual dari Rp 20,- hingga Rp 40,-. 

Kala itu ada seorang kontraktor yang ingin memborong semennya untuk membangun makan orang kaya, namun ia menolak. Kenapa harus dijual ke kontraktor? Eka kemudian menjadi kontraktor dan membangun makan orang kaya dengan membayar upah tukang sebesar Rp 15,- ditambah 20% saham kosong untuk mengadakan enam makam mewah. Eka mematok harga makam mulai dari Rp 3.500,00 hingga Rp 6.000,00. Ketika semua stok semen dan pasir habis ia berhenti menjadi kontraktor kuburan. 

Tidak hanya sampai menjadi kontraktor kuburan saja, Eka kemudian beralih menjadi pedagang kopra, ia bahkan berlayar berhari-hari ke Selayar (Selatan Sulsel) dan ke sentra-sentra kopra untuk mendapatkan kopra mudah. 

Setelah mengeruk laba besar dari kopra, Eka nyaris saja bangkut karena Jepang memberlakukan peraturan bahwa jual beli minyak dikuasai Mitsubishi yang membeli dengan harga Rp 1,80 padahal saat itu harga di pasaran mencapai Rp 6,- per kaleng.

Menjadi bangklut tidak membuat semangat Eka hilang. Ia mulai mencari peluang berbisnis kembali dengan berjualan gula, teng-teng (makanan khas Makassar yang terbuat dari gula merah dan kacang tanah), wijen dan kembang gula. Tetapi ketika usahanya mulai berjaya harga gula anjlok. Eka kembali rugi, bahkan modalnya habis dan ia juga harus berhutang. Eka juga harus menjual 2 sedan, 1 jeep dan perhiasan keluarga termasuk cincin nikah untuk menutup hutang-hutangnya. 

Setelah rugi berdagang beberapa kali dari usaha leveransir(menyediakan keperluan bahan-bahan makanan dan bangunan), dan pada tahun 1950 dagangan kopra milik Eka dijarah oknum-oknum Permesta (Perjoengan Rakyat Semesta) Eka tidak kapok untuk berwirausaha kembali. 

Perjalanan Sinar Mas Group

Beberapa tahun berselang setelah gagal dalam berbisnis kopra, pada masa Orde Baru Eka kembali berbisnis kopra dengan mendirikan pabrik di Sulawesi Utara yang diberi nama Bitung Manado Oil, Ltd. produk minyak goreng miliknya mulai merajai pasar dengan merek Bimoli sehingga ia pernah mendapat julukan Raja Minyak Goreng Indonesia. 

Tahun 1983 Eka mulai beraliansi dengan Liem Sioe Liong untuk memperkuat Bimoli namun kerjasama tersebut tidak bertahan lama, pada tahun 1990 Eka memutuskan keluar dan mulai meluncurkan minyak goreng merek baru dengan nama Filma dan Kunci Mas.

Tahun 1980 Eka mulai bangkit lagi dan memulai kembali menjadi pengusaha. Eka kemudian membeli sebidang perkebunan sawit dengan luas 10.000 Ha yang berlokasi di Riau. tidak hanya itu Eka juga membeli mesin dan pabrik yang bisa memuat 60.000 ton kelapa sawit. Eka juga membeli perkebunan teh seluas 10.000 Ha dengan kapasitas 20.000 ton.

Tahun 1972 Eka mendirikan Pabrik Kertas Tjiwi Kimia yang memproduksi buku Sinar Dunia dan merupakan pabrik kertas pertama dari Sinar Mas Group. Perusahaan ini sendiri sudah resmi menjadi perusahaan publik yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dengan melepaskan 9,30 juta sahamnya ke publik.

Selain merambah ke bisnis kertas, Eka juga mencoba ke bisnis properti yaitu dengan membangun ITC Mangga Dua Jakarta, kawasan hunian pertama yang dibangun adalah perumahan Bumi Serpong Damai (BSD) yang menjadi salah satu perumahan prestisius di Serpong, Tangerang.

Bisnis properti milik Sinar Mas Group tidak hanya di kota-kota besar di Indonesia saja namun juga merambah ke negara-negara tetangga seperti China, Malaysia, Singapura. 

Setelah melebarkan sayapnya di bisnis properti, Sinar Mas Group mulai merambah ke dunia perbankan. Ia membeli Bank Internasional Indonesia (BII) dengan asset mencapai 13 milyar rupiah namun tahun 2001 Sinar Mas harus melepas BII untuk membayar hutang karena jatuhnya harga kelapa sawit dan pulp and paper di pasar Internasional. Dan pada tahun 2015 BII resmi dibeli oleh Maybank asal Malaysia sehingga kini namanya berubah menjadi Bank Maybank Indonesia. 

Pernah kehilangan BII tidak membuat Sinar Mas kapok untuk berbisnis di dunia perbankan. Tahun 2005 Sinar Mas membeli Bank Shinta yang menjadi cikal bakal adanya Bank Sinar Mas. 

Selain itu Sinar Mas juga tergiur dalam bisnis telekomunikasi, kemudian Sinar Mas mulai mengambil bagian dalam PT Smart Telecom yang didirikan pada tahun 2006 atas hasil merger dengan salah satu telekomunikasi Fren yang berbasis pada jaringan CDMA. 

Kematian

Salah satu Crazy Rich Indonesia ini meninggal di usia 97 tahun pada 26 Januari 2019 dengan meninggalkan banyak kekayaan dan aset-asetnya di berbagai sektor. 

Demikian biografi mengenai Eka Tjipta Widjaja sang pendiri Sinar Mas Group dan salah satu Crazy Rich Indonesia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here